Review Detroit: Become Human - Game atau Film? Kamu Sutradaranya!
Pernahkah kamu membayangkan masa depan di mana android super canggih hidup di antara kita? Bukan sebagai teman, tapi sebagai asisten, pekerja, bahkan pelayan. Nah, Detroit: Become Human mengajakmu terjun langsung ke dunia yang penuh dilema moral tersebut, di mana garis antara mesin dan makhluk hidup jadi setipis kertas. Game besutan Quantic Dream ini sejujurnya lebih terasa seperti film interaktif yang epik ketimbang game tradisional. Kamu nggak akan sibuk adu skill menembak atau menghafal kombo, tapi kamu akan sibuk mikir. Keras. Kamu akan mengendalikan tiga android dengan kisah yang berbeda: Kara, android asisten rumah tangga yang menemukan sisi keibuannya; Markus, android perawat yang menjadi pemimpin revolusi; dan Connor, prototipe android detektif yang bertugas memburu android 'sesat'. Ketiga cerita ini berjalan paralel dan pada akhirnya akan saling bersinggungan dengan cara yang brilian. Kekuatan utama game ini adalah narasinya yang bercabang. Setiap keputusan, setiap dialog yang kamu pilih, bahkan setiap kegagalan dalam *Quick Time Event* (QTE), semuanya punya konsekuensi. Ini bukan bualan marketing, lho. Karakter utama bisa benar-benar mati permanen di tengah jalan, mengubah total alur cerita yang akan kamu alami. Rasanya seperti jadi sutradara sekaligus pemeran utama dalam film sci-fi berbudget miliaran. Didukung dengan kualitas grafis dan *performance capture* yang luar biasa, setiap ekspresi karakter terasa begitu hidup dan emosional. Namun, game ini bukan tanpa cela. Bagi sebagian gamer, gameplay-nya yang sangat simpel mungkin terasa membosankan. Sebagian besar interaksi hanya sebatas memilih dialog dan menekan tombol sesuai petunjuk di layar. Beberapa kritikus juga merasa alur ceritanya terkadang menyentuh tema-tema berat dengan cara yang agak klise. Tapi jika kamu bisa menerima itu dan siap untuk sebuah pengalaman yang lebih mengandalkan cerita dan emosi, Detroit: Become Human adalah sebuah mahakarya yang akan membekas di ingatanmu lama setelah credit scene berakhir.
